Cara Pengambilan Sampel Penelitian

CARA PENGAMBILAN DALAM PENELITIAN KESEHATAN

OLEH

NUGROHO SUSANTO


CARA PENGAMBILAN SAMPEL

Pendahuluan

Sebelum jauh melangkah mengenal bagaimana cara pengambilan sample dan cara menentukan besar sample. Kita harus memahami bagaimana sample itu sendiri. Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan dalam kerangka sampling. Penentuan cara pengambilan sampling lebih tergantung oleh peneliti itu sendiri, tetapi hal yang penting disini adalah bagaimana sample itu dapat mewakili dari populasi yang akan diteliti.

Mengapa dalam penelitian dilakukan sample dari populasi? Beberapa alas an untuk melakukan sampling antara lain menghemat tenaga, waktu, biaya, materi dan lainnya. Biasanya meneliti semua populasi biasannya akan menghadapi kendala meski hasilnya akan lebih baik daripada sampling. Tetapi jika sampelnya tepat dan akurat, benar-benar mewakili atau representative maka kesimpulan akan sama dengan meneliti populasi. Untuk itu perlu yang perlu diperhitungkan dalam sample adalah bagaimana cara pengambilan sample? Dan bagaimana menentukan jumlah sample? Harapan dari ini salah satunya adalah bagaimana sample dapat mewakili dari populasi (representative). Dalam konteks ini dikenal dengan cara pengambilan sample secara random dan non random. Disamping itu dikenal beberapa cara penentuan besar sample.

Dalam melakukan penentuan besar sample yang penting diingat adalah bagaimana hipotesisnya dan desain penelitiannya? Pemilihan pengunaan rumus besar sample akan sedikit banyak ditentukan oleh pola hipotesisnya dan desain yang ada dalam penelitian. Pada prinsipnya roh yang ada dalam penelitian adalah hipotesis. Dan salah satu instrument yang dapat digunakan dalam penentuan pengujian hipotesis adalah dengan uji statistic. Penerapan uji statistic dalam penelitian tidak akan lepas dari tipe hipotesis yang ada karena hipotesis akan cenderung menentukan uji statistic yang tepat untuk digunakan. Selain itu yang penting diingat adalah skala data dari hasil pengumpulan penelitian (skala nominal, ordinal, interval, dan skala rasio). Pada prinsipnya cara pengambilan sample ada dua yang dikenal yaitu dengan cara random dan cara non random.

  1. Pengambilan sampe dengan random
  • Pengambilan sampel acak sederhana

Pengambilan sampel acak sederhana menekankan sistem pengambilan sampel yang didasarkan pada angka (bilangan) yang muncul. Keadaan ini dapat dilakukan dengan memberi nomor dari seluruh populasi yang ada sebelum dilakukan pengambilan sampel.

Langkah-langkah.

  1. Menentukan nomer untuk setiap individu dalam populasi.
  2. Melakukan proses acak (dapat dilakukan dengan tabel bilangan acak) untuk mendapatkan n angka antara 1 dan N.

Misalnya

Suatu penelitian dilakukan di FKM UAD.jika diketahui mahasiswa UAD 600 mahasiswa sedangkan besar sampel yang diingikan 20 mahasiswa, bagaimana mengambil 20 mahasiswa dari 600 mahasiswa UAD?

Langkah

    • Memberi label (nomer) untuk setiap mahasiswa.
    • Lakukan proses acak. Proses acak dapat memanfaatkan bilangan random. Misal
1214 0211 4761 3567
0265 6513 4323 0123
1113 4535 9564 1433
5462 4334 0095 3432
4353 0015 0056 3221
3549 0228 0547 2300
2118 0238 6568 1231
4117 4227 3228 1232
    • Melakukan pemilihan nomer bisa dengan menyamping ke kanan atau kebawah.
    • Nomer 121 dianggap sebagai sampel pertama. Sampel ke dua dan seterusnya dapat dilakukan dengan cara memilih ke samping kanan atau ke bawah.

Kelebihan pengambilan sampel acak sederhana.

-         Memberikan dasar probabilitas terhadap banyak teori statistik

-         Mudah dipahami

Kelemahan pengambilan sampel acak sederhana

-         Menetapkan semua populasi dengan memberi nomer (angka) sebelum dilakukan pemilihan sampel.

-         Sub-klaster dalam populasi memungkinkan untuk terpilih semua.

-         Individu yang terpilih memungkinkan sangat tersebar.

2. Pengambilan sampel Sistematik (sistematic random sampling)

Pengambilan sampel sistematik lebih meghemat waktu dan lebih sederhana. Pengambilan sampel ini lebih menekankan pada sistem interval dari hasil proses random. Dalam beberapa riset yang dikerjakan oleh LSM sering mengambil sampel dengan sistematik.

Langkah-langkah:

  1. Memberi angka (nomer) untuk seluruh populasi yang akan dilakukan sampel.
  2. penentuan angka dapat didasarkan pada proporsi sub-klaster yang memiliki proporsi subjek terbanyak kemudian sampai terkecil.
  3. Menentukan interval sampel. Interval sampel dapat ditentukan dengan cara membagai seluruh populasi dengan sampel yang diingikan. i= populasi/besar sampel.
  4. Melakukan proses acak untuk interval pertama.
  5. Hasil acak pada interval pertama dianggap sebagai sampel no 1 untuk sampel no 2 dan dipilih pada interval ke dua, untuk sampel no 3 dipilih pada interval ke tiga dan sterusnya.

Contoh kasus.

Suatu penelitian dilakukan di RSU PKU muhamadiyah. Yang dianggap sebagai populasi adalah perawat. Jika seluruh perawat di RSU PKU muhammadiya adalah sebagai populasi (300 perawat) sedangkan sampel yang diingikan sebesar 30 perawat. Bagaimana mengambil 30 perawat dari 300 perawat yang ada di RSU PKU muhamadiyah?

Langkah penyelesaian.

  1. Memberi label (nomer) urut pada setiap perawat di RSU PKU muhammadiyah.
  2. Pemberian nomer urut didasarkan pada bangsal yang memiliki jumlah perawat terbanyak kemudian diikuti bangsal yang memiliki perawat terbanyak ke dua dan seterusnya sampai sejumlah 300 perawat.
  3. Menentukan interval. Interval diperoleh dengan cara 300:30 = 10. interval yang ada adalah 10.
  4. Melakukan proses random untuk 10 subjek pertama. Misal yang diperoleh angka 3. angka 3 dianggap sebagai sampel no 1.
  5. Untuk memilih sampel no 2 dan seterusnya dicari angka kelipatan 3 yaitu 13 adalah sampel ke 2, 23 adalah sampel ke 3, 33 adalah sampel ke 4 dan seterusnya.

3. Pengambilan sampel stratifikasi

Pengambilan sampel acak stratifikasi adalah suatu proses pemilahan terhadap populasi ke dalam beberapa strata yang saling pisah.

Pengambilan sampel dengan stratifikasi lebih menekankan dan memperhatikan sub-klaster yang ada. Pembagian sub-klaster dapat didasarkan pada karakteristik atau tipe dari populasi.

Langkah-langkah

  1. Menentukan populasi sasaran.
  2. Menentukan sub-klaster yang dapat didasarkan pada karakteristik populasi. Ini lebih sering dikenal dengan alokasi sampling. Cara alokasi yang paling sering adalah dengan Alokasi Proposional.
  3. Melakukan proses random (acak) untuk setiap sub yang didasarkan pada karakteristik populasi.
  4. jumlah Sampel yang terambil untuk setiap sub-klaster adalah sama.
  5. Melakukan pengambilan sampel stratifikasi

Contoh kasus

Suatu penelitian dilakukan di Yogyakarta tentang kepatuhan bidan melaksakan pecegahan infeksi. Yang dianggap sebagai populasi adalah semua bidan yang berada di rumah sakit di wilayah DIY baik rumah sakit swasta atau pemerintah. Jika seluruh bidan yang bekerja di DIY ada 200 sedangkan sampel yang dibutuhkan sebesar 20 bagaimana cara memilih 20 bidan dari 200 bidan yang ada diwilayah kerja provinsi DIY?

Langkah penyelesaian.

-         Menentukan populasi

-         Melakukan alokasi sampel. Dengan cara memisahkan berdasarkan karakteristik sampel. Dalam kasus ini dikategorikan menjadi rumah sakit tipe A, tipe B, tipe C dan tipe D.

-         Menetapkan jumlah sampel untuk setiap sub-klaster. Dimana untuk setiap subklaster terambil 5 sampel.

-         Melakukan acak untuk setiap sub klaster.

4. Pengambilan sampel Klaster

Pengambilan sampel klaster dapat didefinisikan sebagai setiap perencanaan pengambilan sampel yang mengunakan suatu rangka yang terdiri dari klaster-klaster unit pencacahan. Biasanya populasi dibagi menjadi beberapa klaster yang saling pisah dan tuntas. Berbeda dengan strata, klaster harus sehomogin mungkin.

Contoh kasus.

Suatu penelitian dilakukan untuk mengetahui cakupan imunisasi anak sekolah di provinsi DIY. Jika sampel yang dibutuhkan sebesar 200 anak sedangkan seluruh populasi 2.000 anak di DIY. Bagaimana mengambil 200 anak dari 2.000 anak di wilayah DIY?

Langkah penyelesaian.

  1. Menentukan Kabupaten. Kabupaten disini merupakan kabupaten yang berada diwilayah provinsi DIY.
  2. Melakukan pemilihan kecamatan untuk masing-masing kabupaten (5 kabipaten/kota). Pemilihan dapat dilakukan dengan acak sederhana atau sistematic.
  3. Memilih Desa untuk masing-masing kecamatan yang terpilih.
  4. Memilih sekolah untuk masing-masing Desa yang terpilih.
  5. Memilih kelas untuk masing-masing desa yang terpilih.
  6. Memilih anak untuk masing-masing kelas yang terpilih.

Pengambilan Sampel non Random

1. Proporsif Sampling

Proporsif sampling memberikan gambaran bahwa pengambilan sampling didasarkan pada asumsi peneliti.

2. Kuota Sampling

Kouta sampling didasarkan pada samling yang ditemukan dimana telah memenuhi jumlah sampling yang ditentukan.

Latihan sebuah diskusi

Jika diketahui pada bayi tersebar ke dalam 39 posyandu dan diketahui terdapat 1000 ibu yang mempunyai anak usia dibawah 2 tahun bagaimana pengambilan sampel yang tepat untuk kasus diatas?

About these ads

2 Balasan ke Cara Pengambilan Sampel Penelitian

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: